Muslimcirebon.com : Tidak sedikit pelajar se-wilayah III Cirebon yang sekarang duduk kelas XII ingin melanjutkan studinya ke Al-Azhar. Baik mereka yang datang dari lingkungan pesantren ataupun Madrasah Aliyah biasa.
![]() |
| sumber: moroccoworldnews.com |
Sebaiknya sebelum berangkat kualiah di sana, ada baiknya
baca 5 informasi yang dipulikasikan oleh ruwaqazhar.com (media berbahasa
Indonesia yang menginformasikan berbagai hal tentang Al-Azhar):
1. Manhaj Al-Azhar
Di Al-Azhar, pelajar akan diberikan sajian ilmiah dengan
tiga pokok hal; akidah (Iman), fikih (Islam) dan tasawuf (Ihsan), persis
seperti komponen Islam yang ditanyakan oleh Malaikat Jibril AS. kepada Nabi
SAW. di dalam sebuah hadis panjang yang dikenal dengan hadis Jibril.
Dalam masalah akidah, Al-Azhar akan mengajarkan akidah
Asy’ari-Maturidi. Kemudian di ranah fikih, Al-Azhar akan mengajarkan fikih
mazhab; hanafi, maliki, syafii, dan hambali. Pelajar diminta untuk memilih dari
keempat mazhab itu. Dan dalam ranah akhlak, akan diajari ilmu tasawuf Imam
al-Ghazali.
Selain itu semua, Al-Azhar juga akan mengajarkan metode
muqaranah mazahib (perbandingan mazhab). Pendapat-pendapat dari
kelompok-kelompok Islam akan dipaparkan secara detail dan penuh amanah, untuk
kemudian dipilih argumentasi yang dianggap kuat (tarjih). Bahkan, tidak hanya
pendapat kelompok-kelompok di kalangan Sunni yang dipaparkan, namun juga
sejumlah pendapat dari beberapa kelompok di luar Sunni, seperti Syiah.
2. Belajar
Mengajar
Al-Azhar memberikan dua sistem pembelajaran, dimana
pelajaran formal bertempat di ruangan-ruangan kelas kampus Al-Azhar, dengan
sistem modern yang sesuai dengan standar internasional. Sistem yang kedua
adalah sistem talaqqi, dimana Masjid Al-Azhar dengan ruwaq-ruwaq di dalamnya
menjadi pusatnya.
Apa perbedaannya? Perbedaannya di kampus formal kita akan
sering mengkaji diktat-diktat karya para ulama/dosen Al-Azhar dengan tema-tema
tertentu yang disesuaikan dengan kurikulum nasional. Sedangkan di sistem
talaqqi, para pengajar/ulama tidak terikat dengan kurikulum tersebut. Pengajian
difokuskan kepada kitab-kitab turats dan dikaji secara detail dari A hingga Z,
persis seperti di pesantren-pesantren. Dengan kata lain, sistem talaqqi adalah
sistem kuno yang masih dipertahankan oleh Al-Azhar.
Namun sistem ini justru terbukti banyak melahirkan para
ulama yang kompeten. Jika dalam sistem formal kita mendapatkan ijazah formal
sesuai jenjang akademik, sehingga kita dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya
di universitas mana pun di dunia.
Tapi di dalam sistem talaqqi, kita akan mendapatkan
ijazah yang menunjukkan bahwa kita telah mengkaji kitab tertentu dengan sanad
muttashil (bersambung) hingga kepada Rasulullah SAW., atau pengarang kitab yang
bersangkutan.
Selain di Masjid Al-Azhar, talaqqi juga bisa kita temukan
di sejumlah tempat lain sekitar Al-Azhar, seperti Madhiyafah Syaikh Ali Jum’ah,
Masjid Imam Dardir, Madhiyafah Syaikh Ismail Adawi, Madhiyafah Said Dah, Markaz
Imam Ghazali, Markaz Imam Raid Muhammad Zaki Ibrahim, dan lainnya yang semuanya
terletak di sekitar Masjid Al-Azhar.
3. Kepustakaan
Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Mesir
adalah perpustakaan yang berbentuk negara. Di setiap sudut kota Kairo pelajar
akan mendapati para penjual buku. Para ulama Mesir termasuk produktif dalam
melahirkan karya ilmiah, sehingga pelajar tidak perlu khawatir akan kekurangan
buku rujukan, baik untuk sekedar membaca maupun untuk bahan pustaka saat
menulis karya ilmiah.
Tidak hanya itu, harga buku di Mesir juga tergolong
sangat bersahabat dengan kantong pelajar. Dan satu judul buku bisa dicetak oleh
berbagai penerbit dengan keunikan sisi kualitasnya masing-masing sehingga
memiliki varian harga yang cukup banyak. Karenanya kita dapat membeli buku
dengan kualitas cetakan tertentu yang sesuai dengan isi saku kita.
4. Beasiswa
Di Mesir banyak lembaga yang menyediakan beasiswa. Tentu
saja hal itu tidak dapat didapat secara cuma-cuma. Anda harus membuktikan
kualitas akademik terlebih dahulu. Anda wajib, sekali lagi wajib naik tingkat
untuk dapat mendaftar ke lembaga-lembaga pemberi beasiswa tersebut.
5. Musim
Di Mesir memang ada empat musim, panas, dingin, semi dan
gugur. Tapi dua musim pertama begitu dominan; panas dan dingin. Sehingga fisik
kita yang sudah terbiasa dengan iklim tropis biasanya mengalami sedikit masalah
dan harus beradaptasi. Di dua musim ini tentu saja gangguannya adalah
kedinginan dan kepanasan. Kedua-duanya dapat menghambat aktivitas belajar kita.
Solusinya, selain tentu saja menjalan anjuran hidup sehat, juga sangat
dianjurkan untuk pintar-pintar dalam membagi waktu dan memilih kegiatan yang
bermanfaat.
