Sebagai besar mulimin dan muslimat yang pernah
bersentuhan dengan pesantren atau majelis ilmu, pasti tahu apa isi dari Kitab
Safinah.
![]() |
| sumber: fiqhmenjawab.net |
Muslimcirebon.com :
Dalam proses belajar mengajar ilmu
keislaman, umumnya yang hanya kita ketahui hanyalah nama kitab, isi/kandungan
kitab, dan nama penulis/penyusunnya. Jika pun ada informasi lain, adalah sanad
kitab tersebut. Tidak ada informasi lengkap tentang penulisnya, termasuk
dimanakah makam dari ulama/penulis kitab tersebut.
Ini yang terjadi pada perjalanan Kitab Safinah di tanah
air. Pengaruh beliau yang sangat besar, tidak membuat profil dan makam belaiu
banyak diketahui para penuntut ilmu keislaman.
Profil Penulis Kitab
Safinah
Nama lengkap beliau, Al-Allamah Asy-Syaikh
Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Abdulloh bin Sumair Al-Hadhromi Asy-Syafi’i,
dikenal sebagai seorang ulama ahli
Fiqih, pengajar , hakim agama,
ahli politik dan juga ahli dalam
urusan kemiliteran . Beliau
dilahirkan di desa “Dzi Ashbuh” salah satu desa di kawasan Hadhromaut,
Yaman.
Syekh Salim memulai pendidikannya dalam bidang agama
dengan belajar Al-Qur’an di bawah pengawasan ayahandanya yang juga merupakan
ulama besar, yaitu Syekh Al-Allamah Abdullah bin Sa’ad bin Sumair, hingga
beliau mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.
Selain pada ayahnya, beliau juga belajar keilmuan Islam
lainnya pada ulama-ulama Hadhromaut (abad 13 H).
Setelah belajar kepada beberapa ulama dan telah menguasai
berbagai ilmu agama beliau mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmunya,
mulailah berdatangan para pernuntut ilmu untuk menimba ilmu pada beliau, di antara
murid beliau yang masyhur adalah Al-Habib
Abdulloh bin Thoha Al-Hadar Al-Haddad dan Syekh Al-Faqih Ali bin Umar Baghuzah.
Pada satu masa, beliau diangkat menjadi penasehat khusus
Sultan Abdullah bin Muhsin. Sultan tersebut pada awalnya sangat patuh dan
tunduk dengan segala saran, arahan dan nasehat beliau. Namun lama kelamaan sang
sultan tidak lagi mau menuruti saran dan nasehat beliau dan bahkan meremehkan
saran-saran beliau. Akhirnya beliau memutuskan untuk hijrah menuju India, lalu
beliau hijrah ke negara pulau jawa.
Setelah menetap di Jawa (tepatnya di Jakarta), sebagai
seorang ulama terpandang yang segala tindakannya menjadi perhatian para
pengikutnya, maka perpindahan Syekh Salim ke pulau Jawa tersebar secara luas
dengan cepat, mereka datang berduyun-duyun kepada Syekh Salim untuk menimba
ilmu atau meminta doa darinya.
Melihat hal itu maka Syekh Salim mendirikan berbagai
majlis ilmu dan majlis dakwah, hampir dalam setiap hari beliau menghadiri
majlis-majlis tersebut, sehingga akhirnya semakin menguatkan posisi beliau di
Jakarta, pada masa itu.
Syekh Salim bin Sumair dikenal sangat tegas di dalam
mempertahankan kebenaran, apa pun resiko yang harus dihadapinya. Beliau juga
tidak menyukai jika para ulama mendekat, bergaul, apalagi menjadi budak para
pejabat. Seringkali beliau memberi nasihat dan kritikan tajam kepada para ulama
dan para kiai yang gemar mondar-mandir kepada para pejabat pemerintah Belanda.
Walaupun Syekh Salim seorang yang sangat sibuk dalam
berbagai kegiatan dan jabatan, namun beliau adalah seorang yang sangat banyak
berdzikir kepada Allah SWT dan juga dikenal sebagai orang yang ahli membaca Al
Quran. Syekh Ahmad Al-Hadhromi Al-Makiy
menceritakan bahwa Syekh Salim mengkhatamkan bacaan Al-Quran ketika melakukan
thowaf di Baitullah.
Sumber: fiqhmenjawab.net
