Imam Ghazali adalah imam kita, imam yang selalu ada di
hati pecintanya.
| sumber: minhaj.org |
Muslimcirebon.com : Siapa yang tidak pernah mendengar
nama besar Imam Ghazali? Sungguh, beliau ada dibanyak hati muslimin dan
muslimat Indonesia.
Imam Ghazali memiliki nama lengkap, Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi.
Dalam lingkungan muslim Indonesia, nama besar beliau biasanya jauh terdengar lebih akrab jika disandingkan dengan karyanya Ihya’ Ulumiddin.
Dalam lingkungan muslim Indonesia, nama besar beliau biasanya jauh terdengar lebih akrab jika disandingkan dengan karyanya Ihya’ Ulumiddin.
Dalam sejarah hidup beliau, ada banyak kisah inspiratif yang
selalu menjadi contoh bagi umat Islam di setiap zaman. Masa kecil beliau bersama sang adik (Imam Ahmad)
penuh dengan kegiatan menimba ilmu. Meski telah menjadi anak yatim, berbekal
doa orang tua dan keras, Imam Ghazali tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan
sangat disegani di Baghdad.
Kecermelangan intelektualnya diimbangin dengan
kualitas hati yang luar biasa. Semuanya tercermin saat beliau masuk dalam "samudera tasawuf",memilih mengakhiri aktivitas keilmuannya di Baghdad dan mendirikan sebuah zawiyah
atau pesantren di kampung asalnya, Thus.
Beliau berkegiatan di sana sampai wafat.
Lihat, Indahnya
Jalan Wafat Sang Imam
Keindahan hidup memuncak jika dilihat dari cara beliau
wafat.
Abul Faraj ibn al-Juuzi dalam kitab Ats-Tsabât 'indal Mamât memaparkan cerita dari Imam Ahmad,
saudara kandung Imam Al-Ghazali. Suatu hari, persisnya Senin 14 Jumadil Akhir
505 H, saat terbit fajar, Imam Al-Ghazali mengambil wudhu lalu menunaikan
shalat shubuh. Usai sembahyang, Al-Ghazali berkata, "Saya harus memakai kain
kafan.” Lalu ia mengambil, mencium, dan meletakkan kain kafan tersebut di kedua
matanya.
Selanjutnya, Imam Al-Ghazali berucap, “Saya siap kembali ke hadirat-Mu dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).” Ia pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat, lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.
Selanjutnya, Imam Al-Ghazali berucap, “Saya siap kembali ke hadirat-Mu dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).” Ia pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat, lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.